MALUKU — Subaru tercatat menjual 11.638 unit kendaraan listrik sepanjang Januari hingga Juli tahun ini. Jumlah itu ditopang oleh dua model anyar, Uncharted (2.850 unit) dan Trailseeker (3.513 unit), sementara Solterra yang sudah lebih dulu dijual justru mengalami penurunan 34 persen menjadi 5.275 unit dibanding periode yang sama tahun lalu.
Angka penjualan yang naik tersebut harus dibayar mahal. Dalam laporan keuangan kuartal fiskal pertama yang dirilis Rabu (7/8), Subaru menyebut belanja insentif memangkas laba hingga ¥24,9 miliar atau setara Rp 155 miliar. Laba operasional perusahaan pun anjlok ke ¥42,6 miliar (Rp 270 miliar).
Insentif Solterra Capai Rp 154 Juta, Lebih dari 50 Kali Lipat Outback
Data Motor Intelligence yang dikutip Automotive News menunjukkan rata-rata pengeluaran pemasaran Subaru per kendaraan naik 40 persen menjadi US$ 2.698 (Rp 43 juta). Namun untuk lini kendaraan listrik, angkanya jauh lebih ekstrem. Subaru merogoh kocek rata-rata US$ 9.650 (Rp 154 juta) untuk setiap unit Solterra, US$ 9.155 (Rp 146 juta) untuk Uncharted, dan US$ 8.982 (Rp 143 juta) untuk Trailseeker.
Bandingkan dengan model bermesin konvensional. Subaru hanya mengeluarkan US$ 3.036 (Rp 48 juta) per unit Outback. Insentif untuk model bensin seperti BRZ dan Legacy naik rata-rata 27 persen, sedangkan untuk pikap naik 49 persen.
Bandingkan dengan Toyota bZ yang Justru Turun Insentifnya
Ketiga SUV listrik Subaru ini memang dikembangkan bersama Toyota dan berbagi platform yang sama. Toyota menjual tiga model serupa di AS, yaitu bZ, C-HR, dan bZ Woodland. Menariknya, Toyota bZ justru masuk jajaran EV terlaris di AS dengan penjualan naik 90 persen pada semester pertama tahun ini. Subaru harus mengeluarkan rata-rata US$ 8.588 (Rp 137 juta) per unit bZ, atau turun 7,6 persen.
Perbedaan nasib ini menunjukkan tantangan Subaru dalam memasarkan EV di pasar yang semakin kompetitif. Secara keseluruhan, belanja insentif Subaru masih di bawah rata-rata industri yang mencapai US$ 3.479 per kendaraan. Namun kenaikan 40 persen tersebut jauh melampaui rata-rata pasar yang hanya tumbuh 4,4 persen.
Bagi konsumen di Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana pabrikan global berjuang menyeimbangkan target penjualan EV dengan profitabilitas. Belum ada informasi apakah strategi insentif serupa akan diterapkan di pasar Tanah Air, mengingat Subaru saat ini hanya memasarkan model bensin seperti Forester dan Outback secara resmi.