MALUKU — Optimisme pasar global kembali membaik setelah munculnya peluang kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini mendorong bursa Asia mengikuti jejak reli Wall Street, sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS terkoreksi hingga 6 basis poin di seluruh tenor, dengan yield tenor 10 tahun turun ke level 4,61%.
Perbaikan sentimen tersebut ikut terasa di pasar domestik. Minat investor terhadap Surat Utang Negara (SUN) meningkat signifikan pada lelang Selasa (4/8/2026). Total penawaran yang masuk mencapai Rp70,72 triliun, naik 4,16% atau Rp2,82 triliun dibandingkan lelang sebelumnya pada 21 Juli 2026 yang tercatat Rp67,89 triliun.
Level Resistance dan Support Kunci Rupiah Hari Ini
Secara teknikal, rupiah memiliki ruang penguatan bertahap menuju Rp17.900 per dolar AS apabila mampu menembus resistance kuat dari level sebelumnya. Pergerakan ini akan menentukan arah laju mata uang Garuda dalam beberapa sesi ke depan.
Namun, risiko pelemahan tetap ada. Jika tren channel support jebol, rupiah berpotensi terdepresiasi menuju level Rp18.100 hingga Rp18.170 per dolar AS. Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan dolar dan arus modal asing di pasar keuangan domestik.
Sentimen Eksternal Jadi Katalis Utama Pasar
Tone positif dari pasar obligasi Amerika Serikat menjadi angin segar bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Penurunan yield obligasi AS biasanya mendorong investor untuk kembali melirik aset berdenominasi rupiah, baik di pasar saham maupun surat utang.
Selain itu, permintaan yang kuat pada lelang SUN kemarin menunjukkan likuiditas domestik yang masih melimpah dan kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal pemerintah. Kenaikan jumlah penawaran sebesar Rp2,82 triliun dibanding lelang sebelumnya mengindikasikan appetite yang sehat di tengah ketidakpastian global.
Investasi mengandung risiko.