NAMROLE — Keterbatasan fasilitas transfusi darah di Maluku masih menjadi persoalan kritis. Dari total sebelas kabupaten/kota, hanya Kota Ambon yang memiliki Unit Transfusi Darah (UTD). Kondisi ini mendorong Pemerintah Kabupaten Buru Selatan berencana membangun UTD dan Bank Darah sendiri—sebuah langkah yang mendapat dukungan penuh dari PMI Provinsi Maluku.
“Bayangkan, sebelas kabupaten/kota di Maluku baru memiliki satu Unit Transfusi Darah. Kondisi ini tentu menyulitkan pelayanan kebutuhan darah bagi masyarakat,” ujar John Ruhulesin saat melantik pengurus PMI Buru Selatan. Ia berharap rencana tersebut segera terealisasi melalui kerja sama pemda, rumah sakit, PMI, serta dukungan Pemprov Maluku dan PMI Pusat.
Hanya Satu UTD di Maluku, Buru Selatan Jadi Prioritas
John mengungkapkan bahwa keterbatasan ini membuat warga di daerah lain kerap kesulitan mendapatkan donor darah saat darurat. “Kalau Unit Transfusi Darah dan Bank Darah segera terbentuk, bukan hanya membantu PMI, tetapi yang paling utama adalah menyelamatkan masyarakat yang membutuhkan darah,” tegasnya.
Bupati Buru Selatan, La Hamidi, menegaskan komitmennya mendukung penuh PMI sebagai mitra strategis di bidang kemanusiaan. Ia mengaku pernah mengalami sendiri sulitnya mencari darah saat masih menjadi anggota DPRD. “Banyak pasien kesulitan mendapatkan darah sehingga saya harus ikut berkoordinasi,” kenangnya.
Bupati La Hamidi Komitmen Bangun Bank Darah
La Hamidi menyampaikan bahwa PMI tidak hanya mengurus donor darah, tetapi juga terlibat dalam mitigasi bencana dan aksi sosial lainnya. Di tengah keterbatasan fiskal daerah, sinergi dengan organisasi seperti PMI dinilai penting untuk memperkuat pelayanan masyarakat.
John turut mengapresiasi kehadiran Bupati dalam pelantikan tersebut. Menurutnya, tidak semua pelantikan pengurus PMI di daerah dihadiri langsung oleh kepala daerah. “Saya merasa sangat terhormat. Kehadiran Bupati beserta jajaran menunjukkan penghormatan yang besar kepada PMI sebagai organisasi kemanusiaan,” ujarnya.
Relawan Jadi Kekuatan Utama PMI
Dalam kesempatan yang sama, John mendorong pengurus PMI Buru Selatan segera membentuk relawan di sekolah dan komunitas. “PMI hidup karena relawan. Kalau ingin membangun PMI yang kuat, maka kita harus membangun relawannya,” katanya. Ia juga mengusulkan seluruh pengurus baru mengikuti orientasi kepalangmerahan agar memiliki visi dan semangat yang sama.
John menegaskan bahwa kepengurusan yang baru dilantik adalah satu-satunya yang sah berdasarkan AD/ART PMI. “Tidak ada kepengurusan tandingan di Kabupaten Buru Selatan,” tegasnya. Meski demikian, ia berharap semua pihak yang berniat baik dapat bergabung dalam gerakan kemanusiaan ini.