MALUKU — Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung tiba di Silicon Valley hari ini untuk menghadiri San Francisco AI Summit, yang mempertemukan para pemimpin industri seperti bos Samsung Lee Jae-yong, ketua SK Group Chey Tae-won, CEO Nvidia Jensen Huang, hingga pimpinan OpenAI, Anthropic, dan Broadcom. Kedatangan ini disebut-sebut sebagai momen yang akan mengunci negosiasi panjang antara perusahaan chip Korea dengan mitra AS mereka.
Kesepakatan Raksasa Chip Memori
Kepala Kebijakan Kepresidenan Kim Yong-beom mengungkapkan kepada Bloomberg bahwa pengumuman besar akan segera dibuat, melibatkan "jumlah yang sangat besar". Meski detail finansial masih dirahasiakan, Kim memastikan cakupannya mencakup kemitraan strategis, nota kesepahaman, dan kontrak pasokan jangka panjang untuk chip memori.
Perusahaan yang paling diuntungkan adalah Samsung dan SK Hynix, dua produsen memori terbesar dunia. Keduanya selama ini menjadi pemasok utama chip HBM (High Bandwidth Memory) yang digunakan di akselerator AI buatan Nvidia dan kompetitornya.
Investasi $880 Miliar untuk AI
Kunjungan ini tidak terjadi di ruang hampa. Bulan lalu, Korea Selatan mengumumkan rencana investasi senilai $880 miliar (sekitar Rp 14.520 triliun) yang didukung SK Hynix, Naver, dan Samsung. Dana tersebut akan digunakan untuk ekspansi produksi chip, pembangunan pusat data, dan pengembangan AI fisik (physical AI).
Kim Yong-beom menambahkan bahwa sebagian besar dari rencana investasi itu akan segera berubah menjadi proyek konkret berkat momentum kunjungan presiden.
Pertemuan Puncak dengan Bos Nvidia, OpenAI, dan Broadcom
Selama di Silicon Valley, Presiden Lee dijadwalkan menggelar pertemuan terpisah dengan Jensen Huang (Nvidia), Sam Altman (OpenAI), Dario Amodei (Anthropic), dan Hock Tan (Broadcom). Keempat perusahaan ini merupakan pelanggan utama chip memori berkinerja tinggi asal Korea.
"Kunjungan presiden akan menjadi katalis untuk menyelesaikan negosiasi yang sudah berjalan lama," kata Kim Yong-beom, seperti dikutip Bloomberg.
Permintaan AS Dorong Ekspansi Produksi di Korea
Menariknya, meskipun AS mendorong Samsung dan SK Hynix untuk memperluas pabrik di Amerika Serikat, Kim menegaskan belum ada permintaan resmi dari Washington. Sebaliknya, ekspansi domestik Korea justru didorong oleh permintaan kuat dari perusahaan AS — yang mencakup 80% hingga 90% dari total pesanan yang mendasari investasi tersebut.
Artinya, pusat data AI di Amerika-lah yang menjadi "mesin permintaan" utama bagi pabrik chip di Korea. Bagi pengguna gadget di Indonesia, hal ini berarti pasokan chip untuk ponsel dan laptop tetap terjaga selama permintaan AI tidak mengalihkan kapasitas produksi secara berlebihan.