SALATIGA — Ribuan kilometer dari Ambon, gaung perlawanan Thomas Matulessy terhadap penjajah tetap terasa hidup di jantung Jawa Tengah. Peringatan Hari Pattimura ke-209 yang berlangsung di Balairung Utama UKSW, Salatiga, pada Minggu (2/8) tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan momentum bagi anak Maluku di perantauan untuk merefleksikan kembali nilai-nilai kepahlawanan.
Saiful Indra Patta, Kepala Kantor Perwakilan Provinsi Maluku, hadir langsung dalam acara tersebut. Ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kerukunan Keluarga Maluku dan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Maluku (HIPMMA) di Salatiga yang dinilai konsisten menjaga tali persaudaraan dan melestarikan nilai-nilai perjuangan Pattimura di tanah rantau.
"Meskipun terpisah oleh jarak dan lautan, ikatan batin kita sebagai sesama anak Maluku tidak pernah pudar. Semangat perjuangan Kapitan Pattimura terus menyala dalam hati 'katong samua' (kita semua), di mana pun berada. Beliau adalah simbol keberanian, persatuan, dan cinta tanah air yang abadi," ujar Saiful dalam keterangan yang diterima di Ambon.
Saiful menegaskan bahwa penyelenggaraan peringatan di Salatiga merupakan bukti bahwa semangat Lawamena Haulala—nilai persatuan dan saling mendukung—masih hidup di kalangan masyarakat Maluku di perantauan. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru harus terus dipelihara tanpa meninggalkan jati diri sebagai orang Maluku.
"Kita mungkin berbeda negeri, berbeda kampung, tapi dalam darah kita mengalir satu tekad: menjaga warisan luhur para pahlawan bangsa," tegasnya.
Peringatan Hari Pattimura, lanjut Saiful, adalah momentum untuk memperkuat identitas, solidaritas, dan semangat kebangsaan masyarakat Maluku di mana pun berada. Ia menekankan bahwa penghayatan terhadap perjuangan Pattimura tidak berhenti pada seremoni, tetapi harus diwujudkan dalam karya nyata.
Generasi muda Maluku diajak untuk menghidupkan semangat perjuangan Pattimura melalui karya dan pengabdian di berbagai bidang. Saiful berharap seluruh masyarakat Maluku dapat menunjukkan karya terbaik dalam tugas masing-masing sebagai bentuk penghayatan terhadap amanat luhur Thomas Matulessy.
"Saya berharap kita semua dapat menunjukkan karya terbaik dalam tugas di mana saja kita berada. Itulah bentuk penghayatan dari amanat luhur yang dititipkan Thomas Matulessy bahwa 'Pattimura tua boleh sirna, tetapi akan bangkit Pattimura-Pattimura muda untuk meneruskan perjuangan ini'," tandasnya.
Perayaan di Salatiga ini menjadi pengingat bahwa perjuangan pahlawan nasional asal Saparua itu tidak hanya milik masyarakat Maluku di kampung halaman, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi diaspora yang tersebar di seluruh Nusantara.