IHSG Menguat di Tengah The Fed Tahan Suku Bunga, Analis: Investor Kembali Berani Ambil Risiko

Penulis: Kaharuddin Yusuf  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 10:59:31 WIB
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, saat indeks dibuka menguat pada perdagangan hari ini.

JAKARTA — IHSG dibuka naik 18,89 poin atau 0,31 persen ke posisi 6.110,28. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga ikut menguat, naik 2,52 poin atau 0,42 persen ke posisi 609,04. Momentum ini mematahkan tren negatif yang membayangi bursa Asia pagi ini, di mana sebagian besar indeks regional justru tertekan.

Sentimen The Fed dan Ketegangan Timur Tengah

Keputusan The Fed melalui Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menahan suku bunga meredakan kekhawatiran pelaku pasar akan pengetatan moneter yang lebih agresif. Namun, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengingatkan bahwa tekanan masih membayangi. “Di tengah berbagai sentimen eksternal dan internal serta faktor teknikal, diperkirakan IHSG akan uji level psikologis di 6.000 pada perdagangan Kamis (30/7),” ujarnya dalam kajian resmi.

Ketidakpastian masih datang dari dalam tubuh The Fed sendiri. Tiga pejabatnya tidak setuju dengan keputusan mempertahankan suku bunga dan memilih untuk memperketat kebijakan moneter. Hal ini menggarisbawahi betapa volatilitas harga minyak telah mempersulit tugas bank sentral. Di sisi lain, pasar obligasi AS memberikan sinyal bahwa The Fed mungkin tertinggal dalam upaya menurunkan inflasi.

Harga Minyak Melonjak Akibat Ancaman Trump ke Iran

Dari geopolitik, harga minyak mentah dunia melesat tajam. Minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing ditutup menguat lebih dari 7 persen dan 6 persen, berada di level 90 dolar AS dan 84 dolar AS per barel. Lonjakan ini dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menyerang Iran sebagai balasan atas serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Ketegangan ini menjadi faktor negatif yang ikut memengaruhi pelemahan bursa saham Wall Street pada Rabu (29/7) kemarin.

BEI dan OJK Genjot Reformasi Pasar Modal

Di tengah dinamika global, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan penyesuaian. Hasil evaluasi indeks IDXBUMN20 yang akan berlaku mulai 5 Agustus 2026 tidak mengubah komposisi 20 saham di dalamnya. Namun, BEI melakukan penyesuaian jumlah saham dan bobot masing-masing emiten untuk perhitungan indeks.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) memperkuat reformasi pasar modal menjelang Tinjauan Indeks MSCI pada November 2026. Komunikasi intensif dengan penyedia indeks global terus dilakukan. OJK menargetkan Peraturan OJK (POJK) tentang Demutualisasi Bursa Efek Indonesia terbit pada pekan kedua September 2026. Regulator saat ini masih menyusun aturan turunan dari UU Nomor 4 Tahun 2026 dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Reporter: Kaharuddin Yusuf
Sumber: ambon.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top