LANGGUR — Husein Rifai menyampaikan dorongan tersebut kepada rri.co.id pada 30 September 2026. Ia menilai Maluku Tenggara punya karakter destinasi yang cocok untuk pengembangan pariwisata berbasis kualitas, bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan.
Konsep premium tourism berbeda dengan mass tourism yang lebih berorientasi pada banyaknya wisatawan datang. Husein menyebut pendekatan itu menempatkan kesadaran lingkungan sebagai bagian utama dari pengalaman wisata.
Husein menjelaskan premium tourism mengharapkan wisatawan yang memiliki kesadaran terhadap lingkungan. Mereka juga diharapkan bersedia memberikan kontribusi bagi upaya perbaikan dan perlindungan lingkungan di destinasi yang dikunjungi.
"Konsepnya ada mess tourism atau wisata yang hanya mementingkan jumlah wisata bukan seperti itu tapi kita lebih mengharapkan adanya premium tourism atau aktivitas wisata yang disitu melibatkan para pengunjung yang betul-betul sadar dengan lingkungan", kata Husein.
Menurut Husein, konsep premium tourism dapat berjalan seiring dengan penerapan Payment for Ecosystem Services atau PES. Kontribusi dari wisatawan dan pelaku usaha wisata dapat menjadi salah satu sumber pendanaan untuk kegiatan konservasi.
Skema itu memungkinkan biaya yang dikeluarkan wisatawan tidak hanya berhenti pada layanan akomodasi atau transportasi. Dana yang terkumpul bisa dialokasikan untuk menjaga ekosistem yang menjadi daya tarik utama destinasi.
Husein menilai pendekatan tersebut relevan dikembangkan di Maluku Tenggara karena karakter destinasi yang memiliki daya tarik alam. Wilayah itu juga relatif jauh dari pusat wisata seperti Bali dan Lombok.
Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari pengembangan pariwisata yang mengedepankan kualitas dan keberlanjutan lingkungan. Jarak dari pusat wisata arus utama memberi ruang bagi Maluku Tenggara untuk membangun identitas wisata yang berbeda.
BRIN belum menyebut jadwal atau bentuk pendampingan teknis lanjutan terkait penerapan konsep ini di Maluku Tenggara.