MALUKU — Gempa di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, membuat lansia dengan penyakit kronis dan balita di pengungsian rentan kehilangan akses pengobatan rutin serta asupan gizi yang layak. Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa NTT hadir mendampingi dua kelompok usia ini, mulai dari edukasi pengobatan lanjutan hingga dapur khusus makanan bayi dan anak.
Pendampingan kesehatan bagi penyintas gempa di Manggarai Timur tidak berhenti pada penanganan luka atau trauma. Kelompok lanjut usia dan bayi-balita menjadi perhatian khusus karena kondisi pengungsian memperbesar risiko komplikasi penyakit kronis dan penurunan status gizi.
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa NTT bergerak memastikan dua kelompok rentan itu tetap mendapat pengobatan dan asupan gizi selama masa pemulihan pascagempa.
Officer Respon Darurat Kesehatan LKC Dompet Dhuafa NTT, Muhlisnah Usman, mengungkapkan bahwa lansia di pengungsian umumnya datang dengan kondisi penyakit kronis yang butuh pengobatan rutin.
"Untuk kelompok rentan seperti lansia, memang banyak yang kesehatannya kronis seperti kita istilahnya Prolanis, infeksi saluran kemih, terus diabetes melitus, hipertensi," kata Lisna saat siaran di RRI Kupang, Kamis, 1 Oktober 2026.
Penyakit-penyakit itu tidak bisa ditangani sekali kunjungan. Pasien memerlukan kontrol dan obat bulanan agar kondisinya tidak memburuk di tengah situasi darurat.
Tim LKC tidak mengambil alih seluruh penanganan medis. Pasien dengan penyakit kronis diarahkan kembali ke Puskesmas setempat untuk melanjutkan pengobatan rutin mereka.
"Untuk pengobatan itu kita kembalikan ke Puskesmas, kita edukasi dan komunikasi dengan pihak Puskesmas untuk lanjutkan obat rutinnya, karena memang harus lanjut pengobatan rutin per bulannya," ujar Lisna.
Pendekatan ini memastikan pasien lansia tetap terhubung dengan fasilitas kesehatan yang akan mereka gunakan setelah masa tanggap darurat berakhir.
Untuk kelompok bayi dan balita, LKC Dompet Dhuafa mengaktifkan Dapur PMBA atau Pemberian Makanan Bayi dan Anak. Dapur ini menyediakan makanan tiga kali sehari bagi anak-anak di pengungsian.
"Dapur PMBA atau Pemberian Makanan Bayi dan Anak itu kita aktivasi dapurnya setiap hari, makan tiga kali sehari, terus juga edukasi kesehatannya," kata Lisna.
Selain menyediakan makanan, tim juga memberi edukasi kesehatan kepada orang tua atau pengasuh. Kondisi pengungsian dinilai dapat memengaruhi tumbuh kembang anak dan meningkatkan risiko penurunan status gizi bila asupan tidak dijaga.
Saat ini Dapur PMBA telah didirikan di Desa Satar Kampas. Dapur serupa direncanakan mulai beroperasi di Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, pada 5 Oktober 2026.
Penambahan lokasi ini memperluas jangkauan layanan gizi bagi bayi dan balita yang tersebar di beberapa titik pengungsian.
Bagi ibu yang mendampingi balita di pengungsian, segera bawa anak ke posko kesehatan atau Puskesmas terdekat bila muncul tanda seperti diare berulang, demam tinggi, lemas, atau berat badan turun drastis.
Untuk lansia dengan riwayat diabetes, hipertensi, atau infeksi saluran kemih, jangan menunda kontrol bila obat habis atau muncul keluhan baru. Pengobatan kronis yang terputus bisa memicu komplikasi serius.
Pendampingan kesehatan bagi lansia dan balita di pengungsian menunjukkan bahwa pemulihan pascagempa bukan hanya soal tempat tinggal sementara. Pengobatan rutin yang berlanjut dan gizi anak yang terjaga menjadi fondasi agar kelompok paling rentan tetap terlindungi selama masa pemulihan.