Balai Wilayah Sungai Maluku mengoperasikan pompa dari sumur Jaringan Irigasi Air Tanah untuk memasok air bagi sekitar 12 hektare sawah di Daerah Irigasi Wae Samet, Kecamatan Bula Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur. Pompanisasi mulai dilakukan pada 27 September 2026 setelah verifikasi bersama Dinas Pertanian dan P3A Sumber Urip menunjukkan lahan tersebut berpotensi gagal panen akibat keterbatasan pasokan air. Pompa berjarak sekitar 1,2 kilometer dari lokasi persawahan dengan debit air sekitar 2,5 liter per detik.
AMBON — Kepala BWS Maluku Ruslan Malik menyatakan pompanisasi dilakukan setelah tim bersama Dinas Pertanian dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Sumber Urip melakukan verifikasi terhadap kondisi lahan pertanian yang kekurangan air. Laporan mengenai kekeringan di D.I. Wae Samet diterima BWS Maluku pada 25 September 2026.
Setelah laporan masuk, pihaknya langsung melakukan pengecekan lapangan dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian serta P3A Sumber Urip. Hasil verifikasi menunjukkan sekitar 12 hektare sawah berpotensi mengalami gagal panen.
"Survei kekeringan ini atas arahan dan perintah Bapak Dirjen SDA Kementerian PU, dalam antisipasi kekeringan sesuai slogan Cari, Temukan dan Eksekusi, untuk mengatasi kekeringan di daerah," kata Ruslan.
BWS Maluku mengoperasikan pompa dari sumur Jaringan Irigasi Air Tanah untuk mengalirkan air menuju lahan pertanian yang terdampak. Pompa tersebut berada sekitar 1,2 kilometer dari lokasi persawahan dengan debit air sekitar 2,5 liter per detik.
"Untuk sementara penanganan masih berasal dari sumur JIAT karena sumber air sungai yang berada dekat saluran primer dalam kondisi kering," ujar Ruslan.
Tim BWS Maluku pada 28 September 2026 juga mengecek sumber air dari sungai di sekitar saluran primer. Hasilnya, sungai tersebut dalam kondisi kering sehingga belum dapat dimanfaatkan sebagai sumber air untuk irigasi.
Selain memasok air untuk sawah, sumur JIAT tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air lahan hortikultura seluas sekitar 10 hektare. Lahan itu saat ini masih dalam proses penggarapan dan selanjutnya akan ditanami.
Pompanisasi untuk lahan sawah mulai dilakukan pada 27 September 2026. Langkah itu ditempuh untuk menjaga ketersediaan air bagi tanaman sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat kondisi kekeringan.
Ruslan mengatakan BWS Maluku akan terus memantau kondisi sumber air dan lahan pertanian di wilayah tersebut. Pemantauan dilakukan untuk memastikan penanganan kekeringan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Pemantauan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pasokan air bagi sektor pertanian di tengah kondisi sumber air permukaan yang mengalami penurunan.