MALUKU — Jember — Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Arqom, KH Izzat Fahd, menegaskan bahwa kegiatan bercocok tanam dan beternak di lingkungan pesantren tidak hanya berorientasi pada produksi pangan. Santri dilibatkan langsung agar memperoleh pengalaman mengelola sektor agraris dan peternakan secara nyata.
Menurut Kiai Izzat, keterampilan tersebut menjadi bekal yang bisa dikembangkan santri setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Pesantren dinilainya memiliki potensi besar untuk menggerakkan kegiatan produktif berbasis komunitas.
Hasil pertanian dan peternakan Baitul Arqom diarahkan untuk mendukung keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut menjadi salah satu fokus Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
"Para santri di Baitul Arqom tidak hanya dibekali keilmuan agama, tetapi juga dilatih secara langsung untuk bercocok tanam dan berternak. Hasil dari usaha ini dirasakan langsung manfaatnya, salah satunya untuk mendukung keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi fokus Asta Cita Presiden Prabowo Subianto," kata Kiai Izzat dalam keterangan pers, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan pertanian dan peternakan di pesantren ini ditopang oleh pengelolaan wakaf serta sejumlah unit usaha yang dimiliki pesantren. Fondasi kemandirian ekonomi tersebut menjadi modal untuk mengembangkan kegiatan produktif berkelanjutan.
Badan Pengelola Penelitian dan Pengembangan Pesantren (BP3) Wakaf dan Amal Usaha Pondok Pesantren Baitul Arqom, Muhammad Imaduddin, menilai kemandirian ekonomi merupakan prasyarat bagi pesantren untuk mengembangkan kegiatan produktif. Menurutnya, Baitul Arqom memiliki fondasi usaha yang kuat melalui pengelolaan wakaf dan potensi unit bisnis pesantren.
"Pondok Pesantren Baitul Arqom memiliki fondasi yang sangat kuat dalam kemandirian usahanya, baik melalui pengelolaan wakaf maupun potensi unit bisnis pesantren. Kami siap bersinergi, berkontribusi, dan mendukung seluruh rencana serta program baik dari Presiden Prabowo Subianto demi mewujudkan Indonesia yang berdikari, maju, dan sejahtera," kata Imaduddin.
Ia menilai pesantren dapat memperluas perannya di luar pendidikan keagamaan melalui berbagai kegiatan ekonomi produktif. Pertanian, peternakan, dan usaha pangan menjadi sektor yang bisa dikembangkan sesuai potensi masing-masing pesantren.
Baitul Arqom berharap pengembangan pertanian dan peternakan di lingkungannya dapat menjadi model yang diterapkan pesantren atau komunitas lain sesuai kondisi daerah masing-masing. Sistem kemandirian pangan ala pesantren dinilai relevan untuk menjaga keamanan pangan di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok dan kondisi El Nino yang berkepanjangan.
"Kami harap sistem kemandirian pangan ala pesantren dapat ditiru dan diikuti oleh lembaga pendidikan dan masyarakat lainnya, harapannya demi menjaga keamanan pangan kita di tengah naiknya harga sejumlah bahan pokok dan kondisi El Nino yang berkepanjangan," ujarnya.
Pengembangan sektor pangan di Baitul Arqom pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan internal pesantren. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi santri untuk memperoleh pengalaman dalam mengelola pertanian, peternakan, dan usaha pangan.
Langkah Baitul Arqom mencerminkan pergeseran peran pesantren di Indonesia, dari sekadar lembaga pendidikan agama menjadi pusat kegiatan ekonomi produktif berbasis komunitas. Model ini berpotensi menjadi rujukan bagi pesantren lain yang ingin membangun kemandirian pangan sekaligus membekali santri dengan keterampilan praktis.