AMBON — Move on menjadi kata yang lekat dengan keseharian anak muda, terutama saat membahas hubungan asmara yang telah usai. Kata serapan dari bahasa Inggris ini sering dimaknai sebagai upaya pergi menjauh dari mantan kekasih beserta seluruh kenangannya.
Padahal, pemaknaan yang terlalu sempit ini justru bisa menjadi bumerang. Banyak orang mengaku gagal move on karena terus dihantui ingatan tentang mantan, padahal akar masalahnya bisa jadi karena sejak awal keliru memahami konsep move on itu sendiri.
Secara harfiah, move on berarti 'pindah'. Namun, interpretasi kata 'pindah' ini beragam. Ada yang mengartikannya sebagai pindah ke lain hati, pindah ke tempat baru, atau sekadar melupakan kenangan buruk. Semua kembali pada persepsi masing-masing individu.
Pergeseran makna paling kentara terjadi di kalangan anak muda. Istilah ini kerap disempitkan menjadi proses membuka diri untuk menerima cinta dari orang lain setelah hubungan dengan mantan berakhir. Padahal, esensi move on tidak melulu soal percintaan.
Kegagalan move on sering kali berakar dari tekanan untuk segera melupakan. Semakin dipaksa melupakan, ingatan tentang mantan justru semakin kuat. Alih-alih berdamai dengan masa lalu, seseorang malah terjebak dalam siklus mengingat dan menyalahkan diri sendiri.
Proses penyembuhan pasca putus cinta tidak bisa disamakan antara satu orang dengan lainnya. Ada yang butuh waktu singkat, ada pula yang memerlukan proses panjang. Yang terpenting, move on bukanlah perlombaan untuk segera menemukan pengganti.
Alih-alih fokus pada melupakan, pendekatan yang lebih sehat adalah menerima kenyataan bahwa hubungan itu telah berakhir. Mengakui rasa sakit yang dialami merupakan bagian awal dari proses pemulihan, bukan tanda kelemahan.
Mengisi hari dengan aktivitas produktif, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta memperkuat hubungan dengan keluarga dan teman menjadi langkah konkret yang bisa dilakukan. Dengan begitu, energi yang tadinya habis untuk mengingat masa lalu bisa dialihkan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Intinya, move on bukan tentang seberapa cepat seseorang menemukan pengganti, melainkan bagaimana ia mampu berdiri kembali dan menjalani hidup dengan utuh setelah mengalami patah hati.