AMBON — Kekeringan akibat El Nino yang melanda Maluku memaksa pemerintah bergerak cepat. Selain memperbaiki infrastruktur irigasi yang rusak, Kementerian Pertanian (Kementan) mengucurkan bantuan berupa 197 unit pompa air melalui proyek Irigasi Perpompaan (Irpom) yang tersebar di 11 kabupaten/kota.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Sofyan Marasabessy, mengakui dampak El Nino tahun ini cukup parah. Sejumlah daerah sentra padi, terutama di Seram Bagian Timur, mengalami gagal tanam karena sumber air mengering.
"Di SBT itu bendungannya jebol yaitu di Waematakabo, sehingga sangat berdampak terhadap ketersediaan air untuk mengairi sawah," ungkap Sofyan di Ambon, Senin (10/8/2026).
Hal yang membedakan proyek Irpom kali ini adalah skema penyalurannya. Sofyan menjelaskan, anggaran tidak melalui kontraktor, melainkan langsung masuk ke rekening petani. Proses verifikasi di tingkat kabupaten telah rampung, dan sejumlah daerah kini tengah melakukan pengeboran secara swakelola oleh kelompok tani.
"Secara administrasi proyek Irpom sudah berjalan. Ada kabupaten yang masih dalam proses pengeboran oleh pihak ketiga melalui swakelola oleh petani, karena anggarannya langsung ke rekening petani," jelasnya.
Progres pengerjaan pun bervariasi. Kabupaten Buru tercatat paling cepat dengan penyelesaian 100 persen, sementara daerah lain masih berproses. Proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu sekitar empat bulan dan langsung difungsikan mengairi lahan.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Maluku, alokasi pompa Irpom paling besar diberikan kepada Kabupaten Maluku Tengah dengan 49 unit. Disusul Seram Bagian Timur 35 unit, serta Seram Bagian Barat dan Buru masing-masing 34 unit.
Menariknya, bantuan ini tidak hanya dialokasikan untuk lahan padi sawah, tetapi juga menyasar lahan padi gogo yang selama ini mengandalkan air hujan.
Sofyan menambahkan, Menteri Pertanian telah menerbitkan surat edaran yang mewanti-wanti setiap daerah untuk menyiapkan langkah antisipasi menghadapi fenomena ini. Dinas Pertanian Provinsi Maluku pun tidak tinggal diam dengan membangun koordinasi lintas sektor.
Kolaborasi dilakukan bersama Balai Rehabilitasi dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Balai Wilayah Sungai (BWS), serta Dinas Pertanian kabupaten/kota untuk memastikan data luas tambah tanam (LTT) selalu ter-update setiap pekan.
"Dinas Pertanian Maluku sebagai sentra pembangunan pertanian selalu memonitor perkembangan pertanian di daerah yang terkait dengan peningkatan produksi, serta mendukung swasembada pangan," tutup Sofyan.