Mentan Amran Batalkan Rapat di Jakarta demi Turun ke Alor, Target 10 Ribu Hektare Kelapa-Kakao untuk Tekan Kemiskinan

Penulis: Luqman Arif  •  Minggu, 09 Agustus 2026 | 09:39:01 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membatalkan rapat pimpinan di Jakarta dan terbang ke Alor untuk meninjau langsung kondisi pertanian dan harga pangan di daerah tersebut.

MALUKU — Keputusan Amran untuk turun langsung ke lapangan berawal dari curhat Adriano Padama, mahasiswa asal Alor yang ditemuinya saat mengisi kuliah umum di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Kamis (6/8). Adriano menyuarakan soal harga beras yang tinggi, distribusi pangan yang timpang, serta kebutuhan pemerintah untuk serius menggarap potensi pertanian di kampung halamannya.

Alih-alih sekadar mencatat, Amran langsung bergerak. "Kami langsung turun. Kami batalkan acara rapat pimpinan di Jakarta dan langsung terbang ke Alor," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Beras Harus Rp13 Ribu, Bulog Diminta Gelar Operasi Pasar

Setibanya di Alor, Amran langsung meninjau lokasi dan berdialog dengan pemda serta warga. Ia memastikan pengentasan kemiskinan menjadi sasaran utama. Untuk kebutuhan mendesak, ia menginstruksikan stok beras di gudang Bulog diamankan dan harganya ditekan setara Jakarta.

"Beras sudah aman, sudah ada di gudang. Harganya harus sama dengan Jakarta, sekitar Rp13 ribu. Jangan sampai ada lagi masyarakat yang membeli beras dengan harga Rp25 ribu atau Rp30 ribu," tegas Amran. Ia meminta Bulog siap melakukan operasi pasar jika harga di lapangan masih timpang.

Selain beras, Kementerian Pertanian mengucurkan bantuan benih padi dan jagung, alat mesin pertanian (alsintan), serta pompa air untuk lahan yang memiliki sumber air. Amran bahkan menambah alokasi alsintan dan pompa setelah mendengar kebutuhan langsung dari pemda setempat.

Target 10 Ribu Hektare: 40 Ribu Jiwa Bergantung pada Perkebunan

Untuk solusi jangka panjang, pemerintah membidik komoditas yang cocok dengan agroklimat Alor: kelapa, kakao, dan jambu mete. Amran memasang target luas tanam minimal 10 ribu hektare.

"Kalau satu hektare dikelola satu keluarga, berarti ada 10 ribu keluarga yang mendapat sumber penghasilan. Kalau satu keluarga empat orang, sekitar 40 ribu orang bisa merasakan manfaatnya," hitung Amran. Komoditas ini dipilih karena bisa dipanen berulang dalam jangka panjang, berbeda dengan tanaman semusim.

Amran menilai sektor pertanian adalah jalan keluar tercepat menekan angka kemiskinan yang masih tinggi di Alor. "Di sini kemiskinan masih tinggi. Solusi tercepatnya adalah pertanian. Karena itu, kita kerjakan yang jangka pendek dan jangka panjang sekaligus," katanya.

Ia juga mengapresiasi langkah Adriano yang berani menyampaikan persoalan daerahnya. "Dia membawa aspirasi rakyat, bukan kepentingan pribadi. Saya bangga dengan Adriano, ini putra terbaik NTT," pungkas Amran.

Reporter: Luqman Arif
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top