MALUKU — Kabar ini bukan sekadar isu pabrikan. Motor1 melaporkan, dan juru bicara Ram mengonfirmasi kepada Car and Driver, bahwa mulai awal model year 2027, truk pikap setengah ton ini akan beralih dari Hemi eTorque ke versi non-hybrid. Ini adalah perubahan drastis dari strategi elektrifikasi ringan yang mereka usung sejak 2019, dan sinyal kuat bahwa Ram mendengar suara pasar Amerika yang lebih menyukai mesin konvensional.
Sejak 2019, Hemi V-8 dibantu sistem eTorque yang menggantikan alternator standar dengan baterai 48-volt. Sistem ini dirancang untuk memberikan torsi tambahan saat start, meningkatkan efisiensi bahan bakar, dan membuat proses hidup-mati mesin lebih halus. Secara teori, ini solusi cerdas untuk mempertahankan karakter V-8 sambil menekan emisi.
Namun, di jalanan Amerika, fitur stop-start yang menyertai sistem ini justru menjadi biang keladi. Banyak pemilik mengeluhkan getaran dan suara mesin yang menyala-nyala di lampu merah terasa mengganggu. Meski EPA memberikan kredit regulasi kepada produsen yang memasang fitur ini, kebijakan tersebut dicabut pemerintah federal pada Februari 2026. Pencabutan insentif inilah yang akhirnya membuat Ram berani mengambil langkah ini.
Keputusan ini menarik karena Ram sempat "memensiunkan" Hemi pada model 2025 sebelum permintaan konsumen memaksanya kembali. Kini, untuk 2027, mayoritas pembeli yang menginginkan V-8 akan mendapatkan mesin tanpa bantuan listrik sama sekali. Juru bicara Ram menyatakan: "Starting early in the 2027 model year, Ram will phase out the 5.7-liter Hemi V-8 eTorque, replacing it with the nonhybridized version of the 5.7-liter Hemi V-8. A limited number of 2027-model-year Ram 1500s will be built with the eTorque powertrain during the production transition."
Artinya, jika Anda memang menginginkan versi eTorque, masih ada peluang mendapatkannya di awal produksi. Tapi target utama konsumen yang menunggu versi non-hybrid akan mulai melihat unitnya di dealer musim gugur tahun ini.
Keputusan ini menghadirkan beberapa konsekuensi yang perlu diperhatikan:
Stellantis, perusahaan induk Ram, awalnya mengisyaratkan akan mempertahankan teknologi stop-start seperti pabrikan lain. Namun, keputusan Ram untuk menghapusnya di model 1500 menjadikan mereka salah satu yang pertama di segmen truk pikap ukuran penuh untuk melakukannya. Ini memberi Ram posisi unik: menawarkan V-8 "tradisional" yang mungkin lebih menarik bagi purist, sementara kompetitor seperti Ford dan Chevrolet masih mengandalkan teknologi serupa untuk memenuhi target emisi.
Keputusan ini bukan tanpa risiko. Ram 1500 non-hybrid mungkin akan menghadapi pajak atau regulasi emisi yang lebih ketat di beberapa negara bagian AS di masa depan. Namun, bagi konsumen di Indonesia yang tidak terikat regulasi tersebut, ini justru bisa menjadi nilai jual: mesin yang lebih sederhana, lebih andal, dan lebih mudah dirawat.
Jika Anda sedang mempertimbangkan Ram 1500 bekas dengan mesin eTorque, nilai jualnya mungkin akan turun seiring hadirnya versi non-hybrid yang lebih diminati. Sebaliknya, jika Anda mencari truk dengan teknologi paling mutakhir, versi eTorque yang tersisa di masa transisi bisa menjadi pilihan terakhir yang menarik.