JAKARTA — Harapan tercapainya kesepakatan diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz menjadi katalis utama penguatan IHSG pada perdagangan Rabu. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan peluang kesepakatan semakin besar, sementara Qatar mengonfirmasi negosiasi masih berlangsung untuk memulihkan jalur pelayaran strategis tersebut. Kondisi ini mendorong penurunan harga minyak dan meningkatkan selera investor terhadap aset berisiko.
Liza Camelia Suryanata mengatakan, selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.246-6.211, indeks berpeluang melanjutkan kenaikan untuk menguji resistance 6.377, kemudian 6.450, hingga 6.500. Sebaliknya, jika kembali bergerak di bawah EMA50, IHSG berpotensi mengalami pullback sehat dengan area support berada di 6.246, 6.211, dan 6.161.
Dari mancanegara, pemerintah AS dikabarkan tengah menyiapkan kebijakan harga minimum dan tarif impor untuk polysilicon serta produk turunannya. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mengurangi dominasi China dalam rantai pasok semikonduktor dan panel surya.
Kebijakan yang diperkirakan diumumkan akhir Agustus 2026 setelah investigasi Section 232 Trade Expansion Act selesai itu berpotensi meningkatkan perlindungan bagi produsen domestik AS seperti Hemlock Semiconductor dan Wacker Chemie. Namun, langkah tersebut juga memicu kekhawatiran terhadap kenaikan biaya produksi di industri semikonduktor, panel surya, kendaraan listrik, dan elektronik konsumen.
"Meski demikian, sentimen awal di pasar cenderung positif bagi produsen energi surya AS, tercermin dari penguatan saham Corning, First Solar, dan T1 Energy setelah laporan tersebut beredar," ujar Liza.
Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan kebijakan The Fed menjelang rilis data ketenagakerjaan AS pekan ini. Jumlah lowongan pekerjaan (JOLTS) AS turun menjadi 7,359 juta pada Juni 2026 dari sebelumnya 7,537 juta pada Mei 2026, sedikit di bawah ekspektasi pasar.
"Meski data JOLTS menunjukkan perlambatan jumlah lowongan pekerjaan, kondisi pasar tenaga kerja masih relatif kuat sehingga data Nonfarm Payrolls (NFP) Juli 2026 akan menjadi faktor utama dalam membentuk ekspektasi arah suku bunga The Fed selanjutnya," kata Liza.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia periode kuartal II-2026 yang diperkirakan tumbuh sekitar 5,1 persen year on year. Realisasi di atas konsensus berpotensi menjadi katalis bagi sektor perbankan, konsumsi, konstruksi, dan properti, sedangkan hasil di bawah ekspektasi dapat memicu profit taking jangka pendek.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah siap menambah penempatan dana yang bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan Himbara guna menjaga likuiditas dan mempercepat pemulihan ekonomi.
Sentimen positif juga terlihat dari bursa saham Eropa yang kompak menguat pada Selasa (04/08). Euro Stoxx 50 naik 1,12 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,20 persen, DAX Jerman naik 0,77 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,61 persen.
Wall Street juga ditutup hijau pada perdagangan Selasa. Indeks S&P 500 menguat 1,79 persen ke level 7.736,52, Nasdaq Composite melonjak 3,32 persen ke 29.733,16, serta Dow Jones Industrial Average naik 1,71 persen ke 54.085,88. Reli didorong oleh kuatnya laporan keuangan Microsoft dan Amazon yang memicu aksi beli pada saham sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).
Bursa regional Asia pagi ini didominasi penguatan. Nikkei melesat 3,17 persen ke 65.984,00, Kospi melonjak 4,16 persen ke 6.634,41, Shanghai menguat 0,42 persen ke 3.839,4, dan Kuala Lumpur naik 0,53 persen ke 1.741,81. Hanya Straits Times yang melemah 0,67 persen ke 5.574,26.